Pengukuhan Ondoafi Kampung Armopa Bonggo dan Kebangkitan Masyarakat Adat Kabupaten Sarmi.

Sentani, 17/03/2022_Pengukuhan Ondoafi Kampung Armopa distrik Bonggo  15 Maret 2022 lalu di warnai dengan upacara adat atau tradisi ( sakral ) yang berlaku sejak nenek moyang mereka, sampai saat ini, tradisi pengukuhan pemimpin adat sperti ini merupakan tradisi warisan nenek moyang mereka yang masih di jaga.

Ondoafi Armopa Saul Bagre

Ringkasan data kesukuan menjelaskan bahwa ada dua Clan Besar, yakni Clan Buguh dan Eympah, Akan Buguh sendiri terdiri dari Keret : Ketjeway, Kubuan, Baneftar, Baunik dan Sernay. Sedangkan Clan Eympah, terdiri dari Keret : Maban, Aboway, Bagre, Wendey dan Nemnay, keterangan masyarakat setempat juga memberikan penjelasan bahwa ada Dua Keret yang hilang, yakni : Keret KUSNUP dan Keret Sendernay Sekitar tahun 1580 An.

Menurut cerita-cerita orang tua Marga atau keret yang hilang ini kejadiannya masih mistis, kejadian ini di kampung tua WIDET tepatnya di air terjun, hilang diantara 2 batu besar yang digunakan orang-orang terdahulu sebagai tempat berlindung.

Saat Prosesi pengukuhan dimulai Kepala Clan Buguh yang membawahi 5 Keret (Bapak Mathius Ketjewai ) menggantungkan Noken sebagai simbol harta dan kesuburan ke Saugemta Temto Saul Bagre dan Kepala Clan Eympah Bapak Simson Nemnay manggantungkan Taring Babi sebagai simbol kesatria seorang pemimpin yang berfungsi sebagai pengayom dan pelindung rakyatnya, dan di akhiri dengan Doa berkat oleh Pdt John Morin, S.Th (Sekretaris Klasis Bonggo)

Bupati Sarmi Drs. Eduard Fonataba

Bupati Sarmi Drs Edward Fonataba saat sambutan upacara pengukuhan Ondoafi ini menyampaikan bahwa
Pembangunan di Kabupaten Sarmi tidak di bangun diatas laut, angkasa tapi di bangun diatas Tanah adat milik Suku Subey, Armati Rumbuay, Manirem dan sirawa, oleh sebab itu, sudah saatnya masyarakat kembali menjadikan adat sebagai benteng kekuatan.

Sambutan Bupati Sarmi lebih banyak memberikan bobot dan semangat kepada masyarakat adat Sarmi, dan kali ini ada hal baru yang di hasilkan sebagai sumbangan selama kepemimpinannya, kini jabatan Bupati dan Wakil Bupati hanya tinggal 63 hari lagi, dihadapan masyarakat adat Sarmi, bupati Eduard Fonataba menyampaikan bahwa kami berdua akan meninggalkan Kabupaten Sarmi ini, untuk itu sebagai wujud  mempertahankan jati diri masyarakat adat Sarmi, kami telah menetapkan Perda Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Sarmi hari ini, sebagai dasar bagi 5 Suku besar di kabupaten sarmi.

Dikesempatan yang sama pula, sebagai bukti dan kepedulian terhadap masyarakat adatnya bupati Sarmi Drs Edward Fonataba
Bersama DAMDIM & KAPOLRES Sarmi melakukan Pencanangan Penanaman Sagu sebagai tanda Kebangkitan Masyarakat Adat di mulai dari Kampung Armopa Suku Rumbuay Distrik Bonggo dan akan berlanjut ke semua tempat.

Dengan lahirnya Regulasih (Perda) Perlindungan Masyarakt Hukum Adat Sarmi, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara  (AMAN)  Jayapura  Benhur Wally yang hadir saat itu memberikan apresiasi kepada pemerintah daerah dan masyarakat adat  Sarmi, atas perjuangannya untuk mempertahankan existensi keaslian masyarakat adat Sarmi dalam negara kesatuan Republik Indonesia.

Kami berharap, perjuangan Masyarakat adat tidak sampai disini, tetapi kita harus mampu mewujudkan tujuan murni yang di rumuskan dalam Peraturan Daerah ini, hal ini juga merupakan bentuk Jaminan kepastian hukum dalam keberlangsungan hidup masyarakat adat di kabupaten Sarmi kedepan,tutur ketua AMAN Jayapura.(sumber berita: RM- AMAN Jayapura)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.